Singapura | Jurnal Nasional
Para pekerja migran atau immigrant workers yang berada di Singapura, kemarin Minggu (24/8), membentuk sebuah wadah organisasi pekerja yang diberi nama Himpunan Penata Laksana Rumah Tangga (HPLRTIS) atau Domestic Workers Association (DWA). Asosiasi ini mendapat dukungan penuh dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura. Sebelumnya, para pelaut Indonesia juga telah membentuk Indonesia Seaferer Association Pelaut Bhineka Tunggal Ika.
“Kami sangat menyambut baik inisiatif para PRLT dan pekerja migran Indonesia lainnya, termasuk para pelaut kita yang telah memiliki kesadaran untuk bersatu dan membentuk sebuah organisasi,” kata Duta Besar Indonesia untuk Singapura Wardana, di sela-sela peresmian asosiasi PLRT, di Singapura, kemarin.
Menurut Wardana, sejak diluncurkannya program Citizen Service 29 Juli 2007, telah terjadi perubahan signifikan terhadap para pekerja Indonesia yang bekerja di negara yang memiliki maskot kepala singa berbadan ikan ini. Program itu juga telah merubah jauh wajah KBRI Singapura, khususnya di bidang pelayanan.
Presiden Domestic Workers Association Sumarni Markasan mengatakan, asosiasi ini dibentuk atas dasar kesadaran para pekerja mingran Indonesia, khususnya PLRT, untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas kerja, serta peningkatan kesejahteraan mereka. “Makanya kami sangat berterima kasih kepada pihak KBRI, khususnya Pak Wardana yang sangat mendukung keberadaan organisasi pembantu rumah tangga yang mungkin baru satu-satunya di dunia ini,” tutur PLRT asal Kendal, Jawa Tengah yang kini bergaji 1000 dolar Singapura per bulan ini.
Menurut PLRT yang telah malang melintang selama 12 tahun di Singapura ini, tujuan utama pembentukan asosiasi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan para PLRT. Selain itu, asosiasi ini juga diharapkan bisa mempererat tali silaturahmi, meningkatkan citra, dan kemandirian mereka.
“Kami juga berharap, asosiasi ini bisa berperan dalam hal perlindungan terhadap para pekerja yang selama ini posisinya sangat rawan. Setidaknya, kita bisa membantu tugas-tugas KBRI, meskipun sedikit,” ujar PLRT yang telah tujuh kali berganti majikan ini.
Dia yakin, para PLRT yang selama ini sering dianggap remeh, bodoh, dan berpendidikan rendah, bahkan oleh bangsa Indonesia sendiri, bisa meningkatkan kualitas diri bila ada yang mengarahkan. Pasalnya, selama dia bergaul dengan teman-temannya, tidak sedikit diantara mereka yang sebetulnya memiliki kemampuan untuk meningkatkan kemampuan diri. “Banyak diantara mereka berpendidikan SLTA. Jadi saya yakin mereka bisa di-improove,” tutur PLRT yang berhasil menyelesaikan studinya di sebuah akademi teknologi informatika Singapura ini.
Senada dengan Sumarni, Wakil Presiden DWA Muzalimah Suradi mengatakan, pada dasarnya PLRT bisa ditingkatkan kualitasnya asalkan ada komitmen dari berbagai pihak, termasuk dari majikan mereka sendiri. “Saya percaya, mereka itu tidak bodoh. Hanya saja tidak memiliki kesempatan dan tidak ada yang membimbing. Apalagi selama ini mereka masih dianggap hanya sebagai komoditas,” tutur PLRT yang telah menjalani profesinya 10 tahun ini.
Menurut PLRT jebolan Madrasan Aliyah Negeri (MAN) Kediri, Jawa Timur ini, persoalan-persoalan yang menimpa PLRT selama ini sebetulnya lebih banyak akibat ketidak siapan kedua belah pihak, yakni PLRT dan majikan untuk menerima hal-hal di luar perkiraan mereka. “Seperti soal perbedaan budaya, kemampuan PLRT yang tidak sesuai dengan keinginan majikan, dan sebagainya,” tutur PLRT yang juga berhasil mendapat kesempatan menyelesaikan pendidikannya di Institute of Technological Education (ITE) dan BMC Academy (Jurong East), Singapura ini.
Mereka berharap, asosiasi yang dibentuk bersama-sama KBRI Singapura ini bisa menjadi jembatan untuk mengatasi berbagai kekurangan tersebut. Sebab bagaimanapun, keberadaan PLRT yang pada akhir 2007 telah mencapai sekitar 85 ribu dari sekitar 133 ribu pekerja migran Singapura ini, merupakan aset yang tidak bisa diabaikan oleh kedua negara, Indonesia dan Singapura. n
No comments:
Post a Comment